Melihat banyaknya negara-negara terutama negara timur tengah yang dilanda perang saudara dan semakin menjamurnya ajaran-ajaran wahabi dewasa ini di berbagai lini kehidupan membuat saya menarik suatu kesimpulan bahwa ternyata ada keterkaitan antara munculnya Wahabisme di suatu negara dengan kehancuran negara tsb.
find me on fb: Muhammad Muhtam Amalana || ig: @Ini_Muhtam || muhtam.xfriends@yahoo.com
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Rabu, 11 Mei 2016
Jumat, 28 Agustus 2015
Mahasiswa dan Pergerakan
[tugas besok] [bikin sendiri] [ojo diconto]
Seiring berkembangnya dunia di tengah era globalisasi ini sosok pemuda intelektual yang memiliki skill, pola pikir dan gagasan kreatif nan kritis sangat diperlukan utamanya bagi sebuah bangsa. Selain bertugas untuk menuntut ilmu sebagai seorang pelajar, seorang mahasiswa ditutuntut untuk berperan aktif mengabdikan dirinya di masyarakat bukan hanya sebagai anggota masyarakat biasa tetapi anggota masyarakat yang mampu membawa perubahan bagi kelompok masyarakat tersebut ke arah yang lebih baik.
Seiring berkembangnya dunia di tengah era globalisasi ini sosok pemuda intelektual yang memiliki skill, pola pikir dan gagasan kreatif nan kritis sangat diperlukan utamanya bagi sebuah bangsa. Selain bertugas untuk menuntut ilmu sebagai seorang pelajar, seorang mahasiswa ditutuntut untuk berperan aktif mengabdikan dirinya di masyarakat bukan hanya sebagai anggota masyarakat biasa tetapi anggota masyarakat yang mampu membawa perubahan bagi kelompok masyarakat tersebut ke arah yang lebih baik.
Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran yang sangat besar bagi pergerakan revolusioner dalam sejarah bangsa ini. Sejarah terbukti pernah mencatat banyak sekali perubahan besar yang pernah dialami oleh bangsa ini banyak dipelopori oleh para pemuda utamanya kaum Mahasiswa. Seperti kita ketahui bersama mulai dari awal kebangkitan nasional yang dipelopori oleh sekelompok pemuda kala itu yang membentuk sebuah organisasi kepemudaan bernama Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 dan hingga sekarang kita mengenali hari tersebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Hingga yang terakhir adalah Reformasi yang berhasil menumbangkan rezim Orde Baru kala itu yang telah berkuasa selama kurang lebih 32 tahun dan masih banyak lagi aksi-aksi heroik para Mahasiswa yang berhasil membawa dampak besar bagi serjarah pergerakan bangsa Indonesia.
Kaum pemuda utamanya golongan Mahasiswa pada umumnya memiliki pola pikir yang segar dan lebih kritis dibandingkan golongan masyarakat lainnya. Inilah kelebihan mahasiswa yang menyebabkan banyak sekali ide-ide dan gagasan revolusioner yang membawa dampak besar bagi bangsa ini. Pemerintah seharusnya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas peran besar kaum mahasiswa. Tanpa mahasiswa penulis tidak yakin detik ini kita dapat menghirup segarnya udara kemerdekaan, tanpa peran mahasiswa pula belum tentu saat ini kita mampu menikmati segarnya udara reformasi. [#Muhtam]
Minggu, 21 Juni 2015
Kaum Sakit Hati dan Keislaman Jokowi
#NjajalNgomongPolitik :v
prinsipnya adalah apapun yang dikeluarkan jokowi tentang islam itu SALAH..
cth:
isu Islam Nusantara, pada saat PBNU ada sebuah acara di masjid istiqlal dan dihadiri Jokowi, beliau bilang kalo Islamnya itu Islam Nusantara. Sontak, hal ini menuai banyak reaksi dari kaum sakit hati. Mereka menganggap tidak ada yang namanya Islam Nusantara, Islam ya Islam ga ada embel-embel Nusantaranya.
Padahal jauh sebelum Jokowi mengucapkan hal itu, semboyan Islam Nusantara sudah muncul bahkan sebelum NU merilis logo Muktamar NU ke-33 nya.
Islam Nusantara versi NU ini dikampanyekan untuk menentang proses Arabisasi Islam atau proses peng-Arab-an Islam yang muncul di Indonesia. NU ingin menunjukkan bahwa yang berbau Islam belum tentu harus berbau arab, karena agama Islam adalah agama bagi seluruh alam sehingga tidak mutlak yang namanya Islam harus Arab. Terlebih lagi, Islam Nusantara ini sebenarnya sudah muncul jauh sebelum NU dan Bangsa Indonesia ini lahir. Karena sejak jaman walisongo pada abad 14 M juga para walisongo sudah menyerukan Pribumisasi Islam. Sehingga Islam Nusantara adalah ciri khas Islam yang dimiliki bangsa Nusantara jauh sebelum Indonesia berdiri.
Termasuk pula di dalamnya adalah penggunaan langgam jawa pada pembacaan ayat suci Al-Quran. Sama seperti kasus yang saya sampaikan tadi, banyak kaum sakit hati dan gagal move on juga tidak menyetujui hal ini dan penggunaan langgam jawa dianggap sebagai bentuk liberalisasi beragama.
Padahal jika kita telisik lebih jauh, penggunaan langgam (bukan hanya jawa) ketika membacakan Al-Quran juga sudah ada jauh sebelum Jokowi jadi presiden. Di kampung-kampung banyak para Ulama dan Kiai kampung ketika mengimami solat banyak sekali yang membaca al-Quran tidak mengikuti nada-nada qiraah arab dan lebih suka memakai nada qiraah lokal. Tetapi mengapa isu tersebut baru panas belakangan ini? kenapa tidak sejak jaman walisongo saja isu ini memanas yang notabene jaman dulu masih banyak ulama yang tingkat keilmuannya jauh lebih paham islam dibanding ustadz2 KW saat ini?
Melihat dari dua kasus diatas satu hal yang bisa kita tarik kesimpulan adalah apapun yang dinyatakan Jokowi dan bawahannya yang berkaitan dengan Islam pasti akan menuai kecaman dan cercaan dari kaum sakit hati terutama dari kaum partai sapi yang selama ini dikenal anti NU. Terlebih lagi sekarang mereka tidak di pemerintahan, sehingga suara penolakannya juga pada hari ini terdengar cukup lantang meskipun objek yang ditolak serta dalil penolakannya terkesan terlalu dipaksakan.
Apakah mereka akan terus menjadi seperti ini, hidup dalam suasana hati penuh kebencian? ataukah sejenak melupakan kebencian dalam hati dan menghidupkan rasa cinta kepada Agama dan Negeri? entahlah, hanya ALLAH yang tahu. [#Muhtam]
prinsipnya adalah apapun yang dikeluarkan jokowi tentang islam itu SALAH..
cth:
isu Islam Nusantara, pada saat PBNU ada sebuah acara di masjid istiqlal dan dihadiri Jokowi, beliau bilang kalo Islamnya itu Islam Nusantara. Sontak, hal ini menuai banyak reaksi dari kaum sakit hati. Mereka menganggap tidak ada yang namanya Islam Nusantara, Islam ya Islam ga ada embel-embel Nusantaranya.
Padahal jauh sebelum Jokowi mengucapkan hal itu, semboyan Islam Nusantara sudah muncul bahkan sebelum NU merilis logo Muktamar NU ke-33 nya.
Islam Nusantara versi NU ini dikampanyekan untuk menentang proses Arabisasi Islam atau proses peng-Arab-an Islam yang muncul di Indonesia. NU ingin menunjukkan bahwa yang berbau Islam belum tentu harus berbau arab, karena agama Islam adalah agama bagi seluruh alam sehingga tidak mutlak yang namanya Islam harus Arab. Terlebih lagi, Islam Nusantara ini sebenarnya sudah muncul jauh sebelum NU dan Bangsa Indonesia ini lahir. Karena sejak jaman walisongo pada abad 14 M juga para walisongo sudah menyerukan Pribumisasi Islam. Sehingga Islam Nusantara adalah ciri khas Islam yang dimiliki bangsa Nusantara jauh sebelum Indonesia berdiri.
Termasuk pula di dalamnya adalah penggunaan langgam jawa pada pembacaan ayat suci Al-Quran. Sama seperti kasus yang saya sampaikan tadi, banyak kaum sakit hati dan gagal move on juga tidak menyetujui hal ini dan penggunaan langgam jawa dianggap sebagai bentuk liberalisasi beragama.
Padahal jika kita telisik lebih jauh, penggunaan langgam (bukan hanya jawa) ketika membacakan Al-Quran juga sudah ada jauh sebelum Jokowi jadi presiden. Di kampung-kampung banyak para Ulama dan Kiai kampung ketika mengimami solat banyak sekali yang membaca al-Quran tidak mengikuti nada-nada qiraah arab dan lebih suka memakai nada qiraah lokal. Tetapi mengapa isu tersebut baru panas belakangan ini? kenapa tidak sejak jaman walisongo saja isu ini memanas yang notabene jaman dulu masih banyak ulama yang tingkat keilmuannya jauh lebih paham islam dibanding ustadz2 KW saat ini?
Melihat dari dua kasus diatas satu hal yang bisa kita tarik kesimpulan adalah apapun yang dinyatakan Jokowi dan bawahannya yang berkaitan dengan Islam pasti akan menuai kecaman dan cercaan dari kaum sakit hati terutama dari kaum partai sapi yang selama ini dikenal anti NU. Terlebih lagi sekarang mereka tidak di pemerintahan, sehingga suara penolakannya juga pada hari ini terdengar cukup lantang meskipun objek yang ditolak serta dalil penolakannya terkesan terlalu dipaksakan.
Apakah mereka akan terus menjadi seperti ini, hidup dalam suasana hati penuh kebencian? ataukah sejenak melupakan kebencian dalam hati dan menghidupkan rasa cinta kepada Agama dan Negeri? entahlah, hanya ALLAH yang tahu. [#Muhtam]
Langganan:
Postingan (Atom)