Herman yang sebelumnya sudah dirawat beberapa hari akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter. Ia bersama kekasihnya Anita yang selalu mendampinginya selama dirawat akhirnya keluar meninggalkan Rumah Sakit. Dengan mobil Anita, Herman diantar menuju kamarnya yang berada di laboratorium.
"Alhamdulillah kita sudah sampai sayang, sini.." ucap Anita sembari menarik tangan kekasihnya untuk dibopoh menuju kamar Herman.
"Ah.. jadi merepotkan kamu. Aku kan bisa jalan sendiri.." Jawab Herman malu.
find me on fb: Muhammad Muhtam Amalana || ig: @Ini_Muhtam || muhtam.xfriends@yahoo.com
Selasa, 19 Juli 2016
Serial Cerbung: Kolor Ijo (2016) #3
"Hermaaann.. Hermaaann..." suara lirih perlahan keluar dari Prof Romli.
Saat membuka kedua matanya ia melihat berbagai macam alat menempel di badannya. Mulai dari selang infus yang beraneka macam, hingga selang oksigen yang terus menerus menyemburkan hawa dingin di hidungnya. Ia tak mampu merasakan hampir sebagian tubuhnya. Tubuhnya terikat, diperban dan diplester hampir menyerupai mumi. Bahkan wajahnya juga tertutup oleh kain kasa hingga ia tak mampu merasakan wajahnya sendiri.
Saat membuka kedua matanya ia melihat berbagai macam alat menempel di badannya. Mulai dari selang infus yang beraneka macam, hingga selang oksigen yang terus menerus menyemburkan hawa dingin di hidungnya. Ia tak mampu merasakan hampir sebagian tubuhnya. Tubuhnya terikat, diperban dan diplester hampir menyerupai mumi. Bahkan wajahnya juga tertutup oleh kain kasa hingga ia tak mampu merasakan wajahnya sendiri.
Minggu, 17 Juli 2016
Serial Cerbung: Kolor Ijo (2016) #2
Herman pun memasuki ruang reaktor, dengan baju anti radiasi layaknya astronot ia memperhatikan sekelilingnya. Pecahan piring sisa percobaan sebelumnya berserakan disana. Ia pun berfikir dalam hatinya.
"Hmmm.. apa lagi yang salah? Semuanya sudah benar menurut perhitungan. Seharusnya tidak mungkin piringya pecah.."
Ia pun berjalan menuju tombol di pojok ruang reaktor untuk mematikan reaktor. Belum sempat ia menekan tombol tersebut, Herman berfikir..
"Hmm kalau saya naikkan konsentrasi tembakan 0,01% saja mungkin akan berhasil, tidak apa-apa tidak mengikuti perhitungan kan?.. Hmm iya, coba saja dulu, toh profesor Romli sudah pulang."
"Hmmm.. apa lagi yang salah? Semuanya sudah benar menurut perhitungan. Seharusnya tidak mungkin piringya pecah.."
Ia pun berjalan menuju tombol di pojok ruang reaktor untuk mematikan reaktor. Belum sempat ia menekan tombol tersebut, Herman berfikir..
"Hmm kalau saya naikkan konsentrasi tembakan 0,01% saja mungkin akan berhasil, tidak apa-apa tidak mengikuti perhitungan kan?.. Hmm iya, coba saja dulu, toh profesor Romli sudah pulang."
Sabtu, 16 Juli 2016
Serial Cerbung: Kolor Ijo (2016) #1
Mitos kolor ijo yang lama beredar di masyarakat belakangan ini sebenarnya adalah seorang mahasiswa teknik nuklir UGM bernama Herman yang terpapar radiasi nuklirnya yang gagal beberapa waktu lalu. Ia bersama dosen pembimbingnya prof Romli sempat dirawat di rumah sakit selama sebulan. Beruntung Herman yang sempat terkena gelombang kejut ledakan nano nuklir di labnya berhasil selamat dari cidera yang serius. Namun malang bagi prof. Romli, wajahnya mengalami 75% luka bakar dan terpapar radiasi nuklir serius sehingga perlu perawatan yang lebih lanjut.
Berdasarkan cerita yang sempat beredar, sebelumnya Herman bersama prof Romli tengah mengadakan uji coba di dalam laboratorium teknik nuklir. Mereka berdua tengah meneliti manfaat dan efektivitas nuklir untuk digunakan sebagai bahan pembersih rumah tangga.
Berdasarkan cerita yang sempat beredar, sebelumnya Herman bersama prof Romli tengah mengadakan uji coba di dalam laboratorium teknik nuklir. Mereka berdua tengah meneliti manfaat dan efektivitas nuklir untuk digunakan sebagai bahan pembersih rumah tangga.
Senin, 13 Juni 2016
Kajian Lintas Rasa: Studi Kultural Warteg dan Warung Bakso
Rabu, 11 Mei 2016
Tenang! Rejeki, Jodoh dan Maut Sudah Diatur
![]() |
| Ilustrasi. Sumber gambar: trendburung.blogspot.com |
Kemarin sore sekitar jam 5 saya bersama salah seorang kawan saya tengah tiduran di teras sebuah masjid di perumahan dekat kampus usai solat Asar. Maklumlah, kami kan anak kuliahan yang sok sibuk, jadi baru sempet solat Asar jam 5 sore (sibuk cari wifi maksudnya :v).
Seperti biasanya ketika saya dan teman saya sudah terlanjur ngumpul, maka secara otomatis muncul bahan omongan dan diskusi yang terkadang bukan bahan diskusi murahan dan remeh. Sering kami ketika berkumpul entah itu di kampus, warung kopi, masjid atau taman mendiskusikan hal-hal yang dianggap lumayan berat seperti psikologi bahasa (psikolonguistik), filsafat, ilmu keislaman, kajian lintas madzhab hingga perbandingan agama pun tak luput dari pembahasan kami.
Nah, kebetulan sore itu ketika tengah asik mengobrol saya melihat segerombolan burung emprit (Lonchura striata domestica) yang tengah terbang bersama-sama mencari pohon untuk tempat mereka tidur menjelang malam. Terlintas dalam pikiran saya suatu pernyataan. Burung sebanyak itu tidak pernah satu haripun tidak mendapatkan makanan, tidak satu haripun mereka tidak mendapatkan rejeki, tidak satupun dari mereka kelaparan dan khawatir tidak dapat jatah makan esok hari.
Pola yang Digunakan Wahabi dalam Menghancurkan Suatu Negara
Melihat banyaknya negara-negara terutama negara timur tengah yang dilanda perang saudara dan semakin menjamurnya ajaran-ajaran wahabi dewasa ini di berbagai lini kehidupan membuat saya menarik suatu kesimpulan bahwa ternyata ada keterkaitan antara munculnya Wahabisme di suatu negara dengan kehancuran negara tsb.
Langganan:
Postingan (Atom)

