Suatu malam di sebuah rumah, seorang pemuda berusia 16
tahun tengah sibuk mengetik sebuah cerita pendek atau yang biasa disebut
sebagai cerpen di netbook (laptop berukuran agak kecil) kesayangannya. Sebuah cerpen
sedikit tidak singkat dengan panjang sekitar 8 halaman dalam waktu sebulan
harus ia selesaikan. Ia menulis cerpen bukanlah karena ia berbakat dalam
mengarang atau menulis, tetapi terlebih karena tugas pelajaran bahasa Indonesia
bab cerpen yang menuntutnya untuk membuat cerpen tersebut dengan segenap tenaga
yang dimilikinya.
find me on fb: Muhammad Muhtam Amalana || ig: @Ini_Muhtam || muhtam.xfriends@yahoo.com
Senin, 04 April 2016
Minggu, 03 April 2016
Na'at Shina'i | النعت الصناعي
yep, kembali lagi sama ane Muhtam.. :D
gatau lagi kesambet apa tapi tiba-tiba pengen nulis lagi di blog imut ini setelah beberapa bulan vakum dari dunia tulis menulis. Huehehe
kali ini ane tidak mau bahas tentang keislaman atau kajian yang berat-berat yang ane yakin kalian semua tidak paham sama maksud saya. :v
gatau lagi kesambet apa tapi tiba-tiba pengen nulis lagi di blog imut ini setelah beberapa bulan vakum dari dunia tulis menulis. Huehehe
kali ini ane tidak mau bahas tentang keislaman atau kajian yang berat-berat yang ane yakin kalian semua tidak paham sama maksud saya. :v
Kamis, 07 Januari 2016
Mahasiswa dan Politik Bagi-Bagi Kekuasaan*
oleh: Muhammad Muhtam Amalana
Mahasiswa adalah agen perubahan sosial yang senantiasa mengawal perubahan di masyarakat baik itu di tingkat lokal, regional maupun nasional. Mahasiswa sebagai garis terdepan masyarakat dalam perjalanan demokrasi Indonesia mempunyai peran yang sangat besar seperti pengawalan dan kontrol demokrasi di negeri ini. Segala hal yang terjadi di dalam pemerintahan setiap saat tak lepas dari pengamatan dan observasi para agen perubahan ini.
Selasa, 22 September 2015
Ibadah Haji sebagai Momentum Persatuan Umat
Ibadah Haji merupakan salah satu dari Lima Rukun Islam yang dilaksanakan setiap tahun di bulan ke-12 (biasa disebut sebagai Bulan Dzulhijjah, orang Jawa menyebut bulan ini dengan Sasi Besar) dalam penanggalan Hijriah. Ibadah satu ini tergolong istimewa karena pelaksanaannya hanya dianggap sah jika seorang Muslim sudah melakukan serangkaian ritual-ritual tertentu di Tanah Suci Mekkah. Ini jelas berbeda dengan Ibadah lainnya semisal Sholat maupun Puasa yang bisa dilakukan dimana saja tanpa adanya ketentuan tempat khusus.
Setiap tahunnya jutaan umat Muslim dari seluruh penjuru dunia dengan berbagai latar belakang, suku, etnik, ras, bangsa hingga sekte yang berbeda berbondong-bondong mendatangi kota Mekkah hanya untuk melakukan Ibadah Haji. Mereka seolah lupa dengan berbagai perbedaan yang melekat diantara mereka, dengan niat yang tulus Lillahi Ta'aala mereka hanya fokus beribadah melakukan segala ritual-ritual ibadah Haji mengharap bisa memperoleh ridha dari Allah SWT.
Ini seharusnya menjadi bahan renungan kita bersama, dimana orang Islam dari seluruh penjuru dunia datang dengan berbagaimacam kebhinekaan mereka dapat duduk damai dalam satu majelis peribadatan yang besar disana. Tidak peduli apakah orang tersebut seorang Syiah, Wahhabi, Ahmadiyah, Sunni, simpatisan ISIS, militan Taliban, Hamas, Fattah, Ikhwanul Muslimin, NU, Muhammadiyah, LDII bahkan MTA sekalipun. Disana semua orang adalah sama, sama-sama menggunakan pakaian yang sama, mengikuti ritual yang sama bahkan dalam shalat pun mereka sama-sama mengikuti satu imam yang sama hingga dalam satu shaf yang sama tanpa adanya konflik sekterian sebagaimana terjadi di luar Ibadah Haji. Mereka mampu menunjukkan bahwa Islam itu tetap satu esensi ditengah berbagai macam perbedaan didalamnya.
Muncul sebuah pertanyaan agak menggelitik di benak penulis, jika orang-orang di Tanah Suci yang berhaji saja bisa duduk damai tanpa konflik, lantas mengapa kita disini masih saja berkutat pada masalah Bid'ah dan tidak Bid'ah, sesat dan tidak sesat serta kafir dan tidak kafir?. Mengapa kita masih sibuk mengurusi perbedaan yang memang sudah di nas dalam sunatullah?. Bukankah mengurusi keislaman diri sendiri lebih utama dibanding mengurusi keislaman orang lain?. Toh, kita bukan Tuhan yang bisa menilai siapa yang benar siapa yang salah, siapa yang kafir siapa yang mukmin.
Jika sejenak kita bayangkan dan renungkan seandainya setiap hari adalah ibadah haji dan seluruh dunia ini adalah Mekkah maka alangkah indahnya dunia ini jika kita sesama orang Islam dapat duduk damai tanpa konflik sektarian yang selalu membesar-besarkan perbedaan dikalangan Islam. Mungkin tidak ada lagi kita mendengar konflik Timur-Tengah di Media-Media, mungkin juga kita tidak akan mendengar kasus diusirnya Syiah di Madura, dirobohkannya Masjid Ahmadiyah di Jawa Barat hingga perseturuan Pro Islam Nusantara vs Anti Islam Nusantara. Mungkin dunia akan memandang Islam sebagai agama yang kompak bukan sebagai agama teroris sebagaimana wajah Islam kini.
Sebenarnya belum terlambat bagi kita untuk bisa mengubah citra buruk Islam. Di momentum Idul Adha dan Ibadah Haji ini hendaknya menjadi saat bagi kita untuk saling bertoleransi dan menghargai perbedaan pendapat di kalangan sesama Muslim. Sejenak kita lupakan segala bentuk konflik berlandaskan perbedaan Aliran, Madzhab dan Sekte. Kita tunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang kompak ditengah berbagai macam perbedaan. Satu suara satu hati satu jiwa dan satu raga sebagai satu komunitas agama yang besar di dunia yang menebarkan rahmat dan cinta kasih kepada seluruh alam.
Ngaliyan, 22 September 2015
Setiap tahunnya jutaan umat Muslim dari seluruh penjuru dunia dengan berbagai latar belakang, suku, etnik, ras, bangsa hingga sekte yang berbeda berbondong-bondong mendatangi kota Mekkah hanya untuk melakukan Ibadah Haji. Mereka seolah lupa dengan berbagai perbedaan yang melekat diantara mereka, dengan niat yang tulus Lillahi Ta'aala mereka hanya fokus beribadah melakukan segala ritual-ritual ibadah Haji mengharap bisa memperoleh ridha dari Allah SWT.
Ini seharusnya menjadi bahan renungan kita bersama, dimana orang Islam dari seluruh penjuru dunia datang dengan berbagaimacam kebhinekaan mereka dapat duduk damai dalam satu majelis peribadatan yang besar disana. Tidak peduli apakah orang tersebut seorang Syiah, Wahhabi, Ahmadiyah, Sunni, simpatisan ISIS, militan Taliban, Hamas, Fattah, Ikhwanul Muslimin, NU, Muhammadiyah, LDII bahkan MTA sekalipun. Disana semua orang adalah sama, sama-sama menggunakan pakaian yang sama, mengikuti ritual yang sama bahkan dalam shalat pun mereka sama-sama mengikuti satu imam yang sama hingga dalam satu shaf yang sama tanpa adanya konflik sekterian sebagaimana terjadi di luar Ibadah Haji. Mereka mampu menunjukkan bahwa Islam itu tetap satu esensi ditengah berbagai macam perbedaan didalamnya.
Muncul sebuah pertanyaan agak menggelitik di benak penulis, jika orang-orang di Tanah Suci yang berhaji saja bisa duduk damai tanpa konflik, lantas mengapa kita disini masih saja berkutat pada masalah Bid'ah dan tidak Bid'ah, sesat dan tidak sesat serta kafir dan tidak kafir?. Mengapa kita masih sibuk mengurusi perbedaan yang memang sudah di nas dalam sunatullah?. Bukankah mengurusi keislaman diri sendiri lebih utama dibanding mengurusi keislaman orang lain?. Toh, kita bukan Tuhan yang bisa menilai siapa yang benar siapa yang salah, siapa yang kafir siapa yang mukmin.
Jika sejenak kita bayangkan dan renungkan seandainya setiap hari adalah ibadah haji dan seluruh dunia ini adalah Mekkah maka alangkah indahnya dunia ini jika kita sesama orang Islam dapat duduk damai tanpa konflik sektarian yang selalu membesar-besarkan perbedaan dikalangan Islam. Mungkin tidak ada lagi kita mendengar konflik Timur-Tengah di Media-Media, mungkin juga kita tidak akan mendengar kasus diusirnya Syiah di Madura, dirobohkannya Masjid Ahmadiyah di Jawa Barat hingga perseturuan Pro Islam Nusantara vs Anti Islam Nusantara. Mungkin dunia akan memandang Islam sebagai agama yang kompak bukan sebagai agama teroris sebagaimana wajah Islam kini.
Sebenarnya belum terlambat bagi kita untuk bisa mengubah citra buruk Islam. Di momentum Idul Adha dan Ibadah Haji ini hendaknya menjadi saat bagi kita untuk saling bertoleransi dan menghargai perbedaan pendapat di kalangan sesama Muslim. Sejenak kita lupakan segala bentuk konflik berlandaskan perbedaan Aliran, Madzhab dan Sekte. Kita tunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang kompak ditengah berbagai macam perbedaan. Satu suara satu hati satu jiwa dan satu raga sebagai satu komunitas agama yang besar di dunia yang menebarkan rahmat dan cinta kasih kepada seluruh alam.
Ngaliyan, 22 September 2015
Jumat, 28 Agustus 2015
Mahasiswa dan Pergerakan
[tugas besok] [bikin sendiri] [ojo diconto]
Seiring berkembangnya dunia di tengah era globalisasi ini sosok pemuda intelektual yang memiliki skill, pola pikir dan gagasan kreatif nan kritis sangat diperlukan utamanya bagi sebuah bangsa. Selain bertugas untuk menuntut ilmu sebagai seorang pelajar, seorang mahasiswa ditutuntut untuk berperan aktif mengabdikan dirinya di masyarakat bukan hanya sebagai anggota masyarakat biasa tetapi anggota masyarakat yang mampu membawa perubahan bagi kelompok masyarakat tersebut ke arah yang lebih baik.
Seiring berkembangnya dunia di tengah era globalisasi ini sosok pemuda intelektual yang memiliki skill, pola pikir dan gagasan kreatif nan kritis sangat diperlukan utamanya bagi sebuah bangsa. Selain bertugas untuk menuntut ilmu sebagai seorang pelajar, seorang mahasiswa ditutuntut untuk berperan aktif mengabdikan dirinya di masyarakat bukan hanya sebagai anggota masyarakat biasa tetapi anggota masyarakat yang mampu membawa perubahan bagi kelompok masyarakat tersebut ke arah yang lebih baik.
Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran yang sangat besar bagi pergerakan revolusioner dalam sejarah bangsa ini. Sejarah terbukti pernah mencatat banyak sekali perubahan besar yang pernah dialami oleh bangsa ini banyak dipelopori oleh para pemuda utamanya kaum Mahasiswa. Seperti kita ketahui bersama mulai dari awal kebangkitan nasional yang dipelopori oleh sekelompok pemuda kala itu yang membentuk sebuah organisasi kepemudaan bernama Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 dan hingga sekarang kita mengenali hari tersebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Hingga yang terakhir adalah Reformasi yang berhasil menumbangkan rezim Orde Baru kala itu yang telah berkuasa selama kurang lebih 32 tahun dan masih banyak lagi aksi-aksi heroik para Mahasiswa yang berhasil membawa dampak besar bagi serjarah pergerakan bangsa Indonesia.
Kaum pemuda utamanya golongan Mahasiswa pada umumnya memiliki pola pikir yang segar dan lebih kritis dibandingkan golongan masyarakat lainnya. Inilah kelebihan mahasiswa yang menyebabkan banyak sekali ide-ide dan gagasan revolusioner yang membawa dampak besar bagi bangsa ini. Pemerintah seharusnya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas peran besar kaum mahasiswa. Tanpa mahasiswa penulis tidak yakin detik ini kita dapat menghirup segarnya udara kemerdekaan, tanpa peran mahasiswa pula belum tentu saat ini kita mampu menikmati segarnya udara reformasi. [#Muhtam]
Jumat, 26 Juni 2015
Bulan Ramadhan sebagai Bulan Introspeksi Diri
Bulan puasa adalah bulan yang teramat istimewa bagi seluruh makhluk hidup di dunia ini terkhusus bagi para Manusia yang beragama Islam. Di bulan ini Allah menurunkan banyak sekali rahmah dan maghfirah-Nya kepada seluruh makhluknya sehingga menjadi kesempatan emas bagi semua makhluk untuk bisa 'memanen' kemurahan dan kasih dari Allah.
Banyak orang yang pada mulanya biasa-biasa saja sedekah dan solatnya menggunakan bulan ini sebagai tonggak perubahan diri menjadi insan yang lebih baik. Yang mulanya hanya bersedekah seminggu sekali saat Jumatan dan hanya seribu dua ribu rupiah, kini di bulan Ramadhan berubah menjadi bersedekah setiap hari dengan nominal yang sedikit lebih banyak dari bulan biasa. Begitupula orang yang solatnya di bulan biasa masih 'bolong-bolong', di bulan mulia ini pun solat mereka penuh dan malah banyak yang surplus. Semua itu dilakukan untuk memperoleh ridha dan ampunan dari Allah SWT atas dosa-dosa yang dilakukan pada bulan-bulan sebelumnya, terlepas dari apakah ia akan mengulangi dosanya kembali di bulan selanjutnya kita sebagai manusia biasa tidak bisa menebaknya.
Namun sayangnya, kemuliaan dan kesucian bulan Ramadhan ini ternyata masih saja dikotori oleh sekelompok oknum yang mengatasnamakan diri mereka paling Islam. Banyak orang dari oknum tersebut melakukan berbagai fitnah dan cacian yang terkesan tidak Islami di bulan mulia ini.
Banyak saya temui di akun sosial media saya orang-orang yang masih suka menghina kelompok yang tidak sepaham dengan mereka, menghina tokoh tertentu yang mereka anggap sesat dan lain sebagainya. Banyak dari mereka masih mengurusi keislaman orang lain sementara mereka sendiri lupa apakah mereka itu sudah layak disebut Islam ataukah belum. Membid'ahkan amalan suatu aliran tertentu sementara mereka sendiri malah belum melakukan amalan apapun yang mereka anggap sebagai tidak bid'ah. Kalaupun sudah melakukan amalan yang mereka sebut sunnah namun baru sedikit saja mereka langsung memamerkannya kepada orang lain seperti update status, upload foto dan banyak cara mereka tempuh agar mereka dianggap sebagai orang yang suci dan paling beriman.
Kemudian pertanyaan saya adalah apakah itu tujuan mereka berpuasa?, apakah mereka yang suka mengkoreksi ibadah orang lain itu sudah benar sendiri ibadahnya dan tidak membutuhkan koreksi?. Ayolah, bulan ini terlalu suci untuk dikotori dengan hujata, cacian dan fitnahan. Kalian boleh-boleh saja membenciku, menghujatku, mencaciku bahkan memfitnahku, itu hak kalian. Tetapi tolonglah jangan menghujat, mencaci dan memfitnah orang lain di bulan yang penuh karomah ini. Bukankah sebaiknya kita mengkoreksi diri kita sendiri? sudahkah pantas diri kita disebut seorang Muslim? dan pantaskah diri kita yang hina ini memperoleh ridha dari Allah atas puasa kita yang masih terbayang-bayang es Degan di siang hari?.
Introspeksi diri di bulan puasa lebih penting dibanding hanya beribadah sepajang hari namun berniat agar dianggap sebagai orang suci, memamerkannya di sosial media dan mencaci maki orang yang tidak melakukan seperti apa yang ia lakukan.
Tidak penting apakah kita ini orang NU, Muhamadiyah, Syiah bahkan Wahhabi kalau toh ternyata puasa kita belum benar, tidak penting kalau toh ternyata solat dan niat kita belum benar. Mengkoreksi orang lain itu prioritas nomor kesekian ribu, yang paling penting adalah diri kita sendiri apakah amalan yang kita lakukan selama ini sudah benar atau belum. Percuma jika kita berpuasa, solat, zakat sebulan penuh tapi niatan kita salah. Percuma pula ibadah kita jika ternyata di hati kita masih terselipkan rasa riya', sombong dan merasa paling benar sendiri.
Intinya, mari kita perbaiki diri kita sendiri menjadi lebih baik sebelum kita memperbaiki diri orang lain. Analogi sederhananya adalah bagaimana mungkin kita bisa memperbaiki motor orang lain sementara motor kita sendiri tengah rusak dan kita juga sedang sangat membutuhkan motor tersebut?. Bukankah kita perbaiki motor kita dulu, baru setelah selesai kita bantu orang lain memperbaiki motornya?. [#Muhtam] #kirokiromekaten
Banyak orang yang pada mulanya biasa-biasa saja sedekah dan solatnya menggunakan bulan ini sebagai tonggak perubahan diri menjadi insan yang lebih baik. Yang mulanya hanya bersedekah seminggu sekali saat Jumatan dan hanya seribu dua ribu rupiah, kini di bulan Ramadhan berubah menjadi bersedekah setiap hari dengan nominal yang sedikit lebih banyak dari bulan biasa. Begitupula orang yang solatnya di bulan biasa masih 'bolong-bolong', di bulan mulia ini pun solat mereka penuh dan malah banyak yang surplus. Semua itu dilakukan untuk memperoleh ridha dan ampunan dari Allah SWT atas dosa-dosa yang dilakukan pada bulan-bulan sebelumnya, terlepas dari apakah ia akan mengulangi dosanya kembali di bulan selanjutnya kita sebagai manusia biasa tidak bisa menebaknya.
Namun sayangnya, kemuliaan dan kesucian bulan Ramadhan ini ternyata masih saja dikotori oleh sekelompok oknum yang mengatasnamakan diri mereka paling Islam. Banyak orang dari oknum tersebut melakukan berbagai fitnah dan cacian yang terkesan tidak Islami di bulan mulia ini.
Banyak saya temui di akun sosial media saya orang-orang yang masih suka menghina kelompok yang tidak sepaham dengan mereka, menghina tokoh tertentu yang mereka anggap sesat dan lain sebagainya. Banyak dari mereka masih mengurusi keislaman orang lain sementara mereka sendiri lupa apakah mereka itu sudah layak disebut Islam ataukah belum. Membid'ahkan amalan suatu aliran tertentu sementara mereka sendiri malah belum melakukan amalan apapun yang mereka anggap sebagai tidak bid'ah. Kalaupun sudah melakukan amalan yang mereka sebut sunnah namun baru sedikit saja mereka langsung memamerkannya kepada orang lain seperti update status, upload foto dan banyak cara mereka tempuh agar mereka dianggap sebagai orang yang suci dan paling beriman.
Kemudian pertanyaan saya adalah apakah itu tujuan mereka berpuasa?, apakah mereka yang suka mengkoreksi ibadah orang lain itu sudah benar sendiri ibadahnya dan tidak membutuhkan koreksi?. Ayolah, bulan ini terlalu suci untuk dikotori dengan hujata, cacian dan fitnahan. Kalian boleh-boleh saja membenciku, menghujatku, mencaciku bahkan memfitnahku, itu hak kalian. Tetapi tolonglah jangan menghujat, mencaci dan memfitnah orang lain di bulan yang penuh karomah ini. Bukankah sebaiknya kita mengkoreksi diri kita sendiri? sudahkah pantas diri kita disebut seorang Muslim? dan pantaskah diri kita yang hina ini memperoleh ridha dari Allah atas puasa kita yang masih terbayang-bayang es Degan di siang hari?.
Introspeksi diri di bulan puasa lebih penting dibanding hanya beribadah sepajang hari namun berniat agar dianggap sebagai orang suci, memamerkannya di sosial media dan mencaci maki orang yang tidak melakukan seperti apa yang ia lakukan.
Tidak penting apakah kita ini orang NU, Muhamadiyah, Syiah bahkan Wahhabi kalau toh ternyata puasa kita belum benar, tidak penting kalau toh ternyata solat dan niat kita belum benar. Mengkoreksi orang lain itu prioritas nomor kesekian ribu, yang paling penting adalah diri kita sendiri apakah amalan yang kita lakukan selama ini sudah benar atau belum. Percuma jika kita berpuasa, solat, zakat sebulan penuh tapi niatan kita salah. Percuma pula ibadah kita jika ternyata di hati kita masih terselipkan rasa riya', sombong dan merasa paling benar sendiri.
Intinya, mari kita perbaiki diri kita sendiri menjadi lebih baik sebelum kita memperbaiki diri orang lain. Analogi sederhananya adalah bagaimana mungkin kita bisa memperbaiki motor orang lain sementara motor kita sendiri tengah rusak dan kita juga sedang sangat membutuhkan motor tersebut?. Bukankah kita perbaiki motor kita dulu, baru setelah selesai kita bantu orang lain memperbaiki motornya?. [#Muhtam] #kirokiromekaten
Teruntuk Engkau hai Bintang Kejora
Teruntuk engkau hai bintang kejora
Sebuah bintang yang datang di kala senja
Sebuah bintang yang datang di kala sinar mentari hampir sirna
Sebuah bintang yang datang di kala beribu bintang lain masih malu-malu menampakkan cahyanya
Hai bintang kejora
Aku disini memandangmu dan mengagumimu
Indah nan terang cahyamu berbalut langit berwarna jingga
nampak di ujung barat cakrawala terlihat terang nan mempesona sinarmu
seakan mengejek diriku yang bodoh dan dungu di pangkuan buwana
Hai bintang kejora
Aku tak tahu akan jadi seperti apa langit senja tanpa hadirmu
Mungkin hanya akan terlihat mega oranye dengan sedikit awan-awan jahat, yang mencoba menghalangi horison barat,
Atau mungkin sombongnya mentari hanya akan mencoret-coret langit dengan sinarnya yang terang namun membosankan
Hah,, Pasti akan sangat memuakkan disini hanya memandang senja tanpa bintang
Sang langitpun pasti akan enggan menutup hari tanpa keceriaanmu
Hai bintang kejora
Kumohon, jangan pernah tinggalkan aku disini
Di tempat ini, tepat di kursi ini di suatu senja di bulan Mei
Jujur, aku senang melihat cahyamu
Aku senang melihat keberanianmu menantang senja
Aku senang melihat sirius yang kata orang bintang paling terang bisa merasa malu melihat sinarmu yang bermagnitudo -4.08
Tinggallah sejenak disini menemani diriku menghabiskan waktu senja
Temanilah ragaku yang lelah dan penat beraktivitas seharian untuk rehat sejenak
Temani diriku memandangi sang mentari yang sombong tenggelam diufuk barat
Menggulung hari membuka senja di khatulistiwa
Hahaha
Alangkah bodohnya aku
Apakah mungkin dirimu yang berjarak 159.899 juta kilometer itu tahu akan suara hatiku..?
Entahlah..
Tapi aku ingin kau mengerti hai sang bintang senja
Aku tak ingin melepaskanmu pergi
Aku ingin selamanya berada disini memandangmu dan mengagumimu
Bahkan kalau perlu aku akan menggapaimu dan memilikimu untuk kusimpan dihatiku menjadi bintangku
Agar tidak ada orang lain yang memandangmu di kala senja kecuali aku
Terus memandangmu hingga sang mega merah hilang
Dan pada akhirnya lengkingan adzan isyak memaksaku untuk pulang..
Senja di Soneyan, 16 Mei 2015
Sebuah bintang yang datang di kala senja
Sebuah bintang yang datang di kala sinar mentari hampir sirna
Sebuah bintang yang datang di kala beribu bintang lain masih malu-malu menampakkan cahyanya
Hai bintang kejora
Aku disini memandangmu dan mengagumimu
Indah nan terang cahyamu berbalut langit berwarna jingga
nampak di ujung barat cakrawala terlihat terang nan mempesona sinarmu
seakan mengejek diriku yang bodoh dan dungu di pangkuan buwana
Hai bintang kejora
Aku tak tahu akan jadi seperti apa langit senja tanpa hadirmu
Mungkin hanya akan terlihat mega oranye dengan sedikit awan-awan jahat, yang mencoba menghalangi horison barat,
Atau mungkin sombongnya mentari hanya akan mencoret-coret langit dengan sinarnya yang terang namun membosankan
Hah,, Pasti akan sangat memuakkan disini hanya memandang senja tanpa bintang
Sang langitpun pasti akan enggan menutup hari tanpa keceriaanmu
Hai bintang kejora
Kumohon, jangan pernah tinggalkan aku disini
Di tempat ini, tepat di kursi ini di suatu senja di bulan Mei
Jujur, aku senang melihat cahyamu
Aku senang melihat keberanianmu menantang senja
Aku senang melihat sirius yang kata orang bintang paling terang bisa merasa malu melihat sinarmu yang bermagnitudo -4.08
Tinggallah sejenak disini menemani diriku menghabiskan waktu senja
Temanilah ragaku yang lelah dan penat beraktivitas seharian untuk rehat sejenak
Temani diriku memandangi sang mentari yang sombong tenggelam diufuk barat
Menggulung hari membuka senja di khatulistiwa
Hahaha
Alangkah bodohnya aku
Apakah mungkin dirimu yang berjarak 159.899 juta kilometer itu tahu akan suara hatiku..?
Entahlah..
Tapi aku ingin kau mengerti hai sang bintang senja
Aku tak ingin melepaskanmu pergi
Aku ingin selamanya berada disini memandangmu dan mengagumimu
Bahkan kalau perlu aku akan menggapaimu dan memilikimu untuk kusimpan dihatiku menjadi bintangku
Agar tidak ada orang lain yang memandangmu di kala senja kecuali aku
Terus memandangmu hingga sang mega merah hilang
Dan pada akhirnya lengkingan adzan isyak memaksaku untuk pulang..
Senja di Soneyan, 16 Mei 2015
Langganan:
Postingan (Atom)
