Senin, 04 April 2016

Konsep Ketuhanan dalam Tiga Agama Ibrahimik


I.         PENDAHULUAN
Tuhan adalah sosok utama dalam setiap agama yang menjadi sesembahan dan tempat berpegang setiap penganut agama. Ia dipercaya sebagai pencipta, pengatur dan pemilik seluruh alam semesta ini. Ialah sebab dari keberadaan segala sesuatu di alam ini sehingga makhluk yang diciptakannya merasa bersyukur telah diberi kehidupan sehingga menyembah-Nya sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan.

Cerpenku.. "Sepenggal Kisah dari Alam Mimpi"*

 
Suatu malam di sebuah rumah, seorang pemuda berusia 16 tahun tengah sibuk mengetik sebuah cerita pendek atau yang biasa disebut sebagai cerpen di netbook (laptop berukuran  agak kecil) kesayangannya. Sebuah cerpen sedikit tidak singkat dengan panjang sekitar 8 halaman dalam waktu sebulan harus ia selesaikan. Ia menulis cerpen bukanlah karena ia berbakat dalam mengarang atau menulis, tetapi terlebih karena tugas pelajaran bahasa Indonesia bab cerpen yang menuntutnya untuk membuat cerpen tersebut dengan segenap tenaga yang dimilikinya.

Minggu, 03 April 2016

Na'at Shina'i | النعت الصناعي

yep, kembali lagi sama ane Muhtam.. :D
gatau lagi kesambet apa tapi tiba-tiba pengen nulis lagi di blog imut ini setelah beberapa bulan vakum dari dunia tulis menulis. Huehehe

kali ini ane tidak mau bahas tentang keislaman atau kajian yang berat-berat yang ane yakin kalian semua tidak paham sama maksud saya. :v

Kamis, 07 Januari 2016

Mahasiswa dan Politik Bagi-Bagi Kekuasaan*


oleh: Muhammad Muhtam Amalana

  Mahasiswa adalah agen perubahan sosial yang senantiasa mengawal perubahan di masyarakat baik itu di tingkat lokal, regional maupun nasional. Mahasiswa sebagai garis terdepan masyarakat dalam perjalanan demokrasi Indonesia mempunyai peran yang sangat besar seperti pengawalan dan kontrol demokrasi di negeri ini. Segala hal yang terjadi di dalam pemerintahan setiap saat tak lepas dari pengamatan dan observasi para agen perubahan ini.

Selasa, 22 September 2015

Ibadah Haji sebagai Momentum Persatuan Umat

Ibadah Haji merupakan salah satu dari Lima Rukun Islam yang dilaksanakan setiap tahun di bulan ke-12 (biasa disebut sebagai Bulan Dzulhijjah, orang Jawa menyebut bulan ini dengan Sasi Besar) dalam penanggalan Hijriah. Ibadah satu ini tergolong istimewa karena pelaksanaannya hanya dianggap sah jika seorang Muslim sudah melakukan serangkaian ritual-ritual tertentu di Tanah Suci Mekkah. Ini jelas berbeda dengan Ibadah lainnya semisal Sholat maupun Puasa yang bisa dilakukan dimana saja tanpa adanya ketentuan tempat khusus.

Setiap tahunnya jutaan umat Muslim dari seluruh penjuru dunia dengan berbagai latar belakang, suku, etnik, ras, bangsa hingga sekte yang berbeda berbondong-bondong mendatangi kota Mekkah hanya untuk melakukan Ibadah Haji. Mereka seolah lupa dengan berbagai perbedaan yang melekat diantara mereka, dengan niat yang tulus Lillahi Ta'aala mereka hanya fokus beribadah melakukan segala ritual-ritual ibadah Haji mengharap bisa memperoleh ridha dari Allah SWT.

Ini seharusnya menjadi bahan renungan kita bersama, dimana orang Islam dari seluruh penjuru dunia datang dengan berbagaimacam kebhinekaan mereka dapat duduk damai dalam satu majelis peribadatan yang besar disana. Tidak peduli apakah orang tersebut seorang Syiah, Wahhabi, Ahmadiyah, Sunni, simpatisan ISIS, militan Taliban, Hamas, Fattah, Ikhwanul Muslimin, NU, Muhammadiyah, LDII bahkan MTA sekalipun. Disana semua orang adalah sama, sama-sama menggunakan pakaian yang sama, mengikuti ritual yang sama bahkan dalam shalat pun mereka sama-sama mengikuti satu imam yang sama hingga dalam satu shaf yang sama tanpa adanya konflik sekterian sebagaimana terjadi di luar Ibadah Haji. Mereka mampu menunjukkan bahwa Islam itu tetap satu esensi ditengah berbagai macam perbedaan didalamnya.

Muncul sebuah pertanyaan agak menggelitik di benak penulis, jika orang-orang di Tanah Suci yang berhaji saja bisa duduk damai tanpa konflik, lantas mengapa kita disini masih saja berkutat pada masalah Bid'ah dan tidak Bid'ah, sesat dan tidak sesat serta kafir dan tidak kafir?. Mengapa kita masih sibuk mengurusi perbedaan yang memang sudah di nas dalam sunatullah?. Bukankah mengurusi keislaman diri sendiri lebih utama dibanding mengurusi keislaman orang lain?. Toh, kita bukan Tuhan yang bisa menilai siapa yang benar siapa yang salah, siapa yang kafir siapa yang mukmin.

Jika sejenak kita bayangkan dan renungkan seandainya setiap hari adalah ibadah haji dan seluruh dunia ini adalah Mekkah maka alangkah indahnya dunia ini jika kita sesama orang Islam dapat duduk damai tanpa konflik sektarian yang selalu membesar-besarkan perbedaan dikalangan Islam. Mungkin tidak ada lagi kita mendengar konflik Timur-Tengah di Media-Media, mungkin juga kita tidak akan mendengar kasus diusirnya Syiah di Madura, dirobohkannya Masjid Ahmadiyah di Jawa Barat hingga perseturuan Pro Islam Nusantara vs Anti Islam Nusantara. Mungkin dunia akan memandang Islam sebagai agama yang kompak bukan sebagai agama teroris sebagaimana wajah Islam kini.

Sebenarnya belum terlambat bagi kita untuk bisa mengubah citra buruk Islam. Di momentum Idul Adha dan Ibadah Haji ini hendaknya menjadi saat bagi kita untuk saling bertoleransi dan menghargai perbedaan pendapat di kalangan sesama Muslim. Sejenak kita lupakan segala bentuk konflik berlandaskan perbedaan Aliran, Madzhab dan Sekte. Kita tunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang kompak ditengah berbagai macam perbedaan. Satu suara satu hati satu jiwa dan satu raga sebagai satu komunitas agama yang besar di dunia yang menebarkan rahmat dan cinta kasih kepada seluruh alam.

Ngaliyan, 22 September 2015

Jumat, 28 Agustus 2015

Mahasiswa dan Pergerakan

[tugas besok] [bikin sendiri] [ojo diconto]
Seiring berkembangnya dunia di tengah era globalisasi ini sosok pemuda intelektual yang memiliki skill, pola pikir dan gagasan kreatif nan kritis sangat diperlukan utamanya bagi sebuah bangsa. Selain bertugas untuk menuntut ilmu sebagai seorang pelajar, seorang mahasiswa ditutuntut untuk berperan aktif mengabdikan dirinya di masyarakat bukan hanya sebagai anggota masyarakat biasa tetapi anggota masyarakat yang mampu membawa perubahan bagi kelompok masyarakat tersebut ke arah yang lebih baik.
Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran yang sangat besar bagi pergerakan revolusioner dalam sejarah bangsa ini. Sejarah terbukti pernah mencatat banyak sekali perubahan besar yang pernah dialami oleh bangsa ini banyak dipelopori oleh para pemuda utamanya kaum Mahasiswa. Seperti kita ketahui bersama mulai dari awal kebangkitan nasional yang dipelopori oleh sekelompok pemuda kala itu yang membentuk sebuah organisasi kepemudaan bernama Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 dan hingga sekarang kita mengenali hari tersebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Hingga yang terakhir adalah Reformasi yang berhasil menumbangkan rezim Orde Baru kala itu yang telah berkuasa selama kurang lebih 32 tahun dan masih banyak lagi aksi-aksi heroik para Mahasiswa yang berhasil membawa dampak besar bagi serjarah pergerakan bangsa Indonesia.
Kaum pemuda utamanya golongan Mahasiswa pada umumnya memiliki pola pikir yang segar dan lebih kritis dibandingkan golongan masyarakat lainnya. Inilah kelebihan mahasiswa yang menyebabkan banyak sekali ide-ide dan gagasan revolusioner yang membawa dampak besar bagi bangsa ini. Pemerintah seharusnya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas peran besar kaum mahasiswa. Tanpa mahasiswa penulis tidak yakin detik ini kita dapat menghirup segarnya udara kemerdekaan, tanpa peran mahasiswa pula belum tentu saat ini kita mampu menikmati segarnya udara reformasi. [‪#‎Muhtam‬]